TNI AL Gagalkan Penyelundupan Selama 17 Bulan, Potensi Kerugian Negara Rp14 Triliun Berhasil Diselamatkan

JAKARTA — TNI Angkatan Laut (TNI AL) melalui Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) berhasil menggagalkan berbagai aktivitas ilegal dan penyelundupan selama 17 bulan terakhir dengan total potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai lebih dari Rp14 triliun. Atas capaian tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago memberikan apresiasi kepada jajaran TNI AL dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Menurut Djamari, keberhasilan operasi penegakan hukum dan keamanan laut itu menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga sumber daya alam (SDA) Indonesia dari praktik ilegal yang merugikan negara dan masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada TNI AL yang sudah berupaya sejauh ini. Saya berharap jangan puas dengan hal yang sudah kita capai, jangan lelah untuk melakukan tugas-tugas seperti ini, dan jangan bosan untuk tetap melakukan ini, karena ini harapan bangsa yang ditetapkan kepada kita,” kata Djamari.

Berdasarkan data Koarmada RI, sepanjang 2025 TNI AL berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara sebesar Rp14,75 triliun dari berbagai kasus penyelundupan dan pelanggaran hukum di laut. Sementara pada periode Januari hingga Mei 2026, nilai kerugian negara yang berhasil dicegah mencapai Rp112,9 miliar.

Djamari menegaskan, posisi strategis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jalur perdagangan internasional yang luas membuat ancaman penyelundupan dan eksploitasi ilegal sumber daya alam menjadi sangat tinggi.

“TNI Angkatan Laut sebagai bagian dari alat negara, hadir dalam upaya untuk mengamankan SDA agar tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk orang lain di luar negeri kita,” ujarnya.

Selain penyelundupan sumber daya alam dan barang ilegal, TNI AL juga berhasil menggagalkan sejumlah upaya penyelundupan narkotika dari luar negeri ke Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan, penggagalan penyelundupan narkoba sepanjang 2025 disebut telah menyelamatkan sekitar 24,5 juta jiwa, sedangkan pada 2026 diperkirakan menyelamatkan 6.715 jiwa dari ancaman narkotika.

“Sudah banyak tindakan yang dilakukan. Juga alat negara yang lain misalnya kepolisian, banyak melakukan pencegahan kejahatan seperti narkotika yang sangat besar dan sangat menghancurkan anak-anak kita,” imbuh Djamari.

Sementara itu, Panglima Koarmada RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata mengatakan keberhasilan berbagai operasi pengamanan laut tidak terlepas dari kerja sama lintas lembaga dan dukungan masyarakat.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi dan kolaborasi yang solid antara TNI AL, Bea Cukai, Polri, Bais TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, serta masyarakat,” ujar Denih.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang meningkatkan fokus pengawasan wilayah laut menyusul tingginya aktivitas penyelundupan di sejumlah jalur strategis seperti Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan kawasan perbatasan laut Indonesia lainnya. Modus penyelundupan yang ditangani mencakup narkotika, penyelundupan sumber daya alam, perdagangan satwa dilindungi, hingga pekerja migran ilegal.

Keberhasilan operasi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap penguatan ketahanan ekonomi dan keamanan nasional. Selain mencegah kerugian negara, pengawasan laut yang lebih ketat juga membantu menjaga keberlanjutan sumber daya alam, menekan peredaran narkotika, dan memperkuat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia.

Ke depan, TNI AL menyatakan akan terus memperkuat patroli laut dan sistem pengawasan terpadu, termasuk meningkatkan koordinasi dengan kementerian, lembaga penegak hukum, serta masyarakat pesisir guna menekan aktivitas ilegal di jalur perairan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *