Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah tidak hanya berperan sebagai kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga dinilai memiliki dampak ekonomi yang luas. Sejumlah riset akademik menunjukkan bahwa program ini mampu mendorong aktivitas ekonomi di tingkat lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berbagai kajian ilmiah mulai menyoroti bagaimana implementasi MBG tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat melalui keterlibatan petani, pelaku usaha kecil, serta sektor logistik.
Riset UI Temukan Dampak Ekonomi Signifikan
Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Prof. Fentiny Nugroho, menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan tim FISIP UI menemukan adanya dampak ekonomi yang cukup signifikan dari program MBG.
Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi lapangan, serta studi dokumen di tiga wilayah, yaitu Jakarta Timur, Depok, dan Tangerang Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG mampu menciptakan perputaran ekonomi yang besar di tingkat lokal.
Setiap unit SPPG diketahui dapat mengelola anggaran sekitar Rp10 hingga Rp12 miliar per tahun, dengan sekitar 85 persen anggaran digunakan untuk membeli bahan pangan dari petani dan pemasok lokal.
Kondisi ini memberikan dampak langsung bagi sektor pertanian serta pelaku usaha kecil yang terlibat dalam rantai pasok penyediaan bahan pangan.
Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Selain meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, operasional SPPG juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Setiap unit layanan gizi tersebut dapat mempekerjakan sekitar 50 tenaga kerja, serta melibatkan puluhan petani dan pemasok bahan pangan sebagai mitra.
Program ini juga melibatkan relawan yang membantu operasional harian dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per hari, yang menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.
Pengeluaran Rumah Tangga Menurun
Riset tersebut juga menemukan adanya perubahan dalam pola pengeluaran rumah tangga penerima manfaat.
Banyak keluarga merasakan penurunan pengeluaran untuk kebutuhan pangan, karena anak-anak mereka telah mendapatkan makanan bergizi melalui program MBG di sekolah.
Dampak ini paling terasa bagi keluarga yang masuk kategori miskin dan rentan miskin, di mana pengeluaran untuk makanan menjadi salah satu komponen terbesar dalam anggaran rumah tangga.
Perkuat SDM dan Ketahanan Ekonomi
Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Imamudin Yuliadi, menilai bahwa MBG memiliki potensi menjadi instrumen strategis yang mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi daerah.
Menurutnya, dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu, kebijakan yang mengintegrasikan program sosial dengan penguatan ekonomi lokal seperti MBG menjadi pendekatan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
Dampak Meluas ke Sektor Industri
Dampak ekonomi program MBG juga mulai terlihat di sektor industri dan logistik.
Deputy to 4W Sales & Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra, menyebut meningkatnya kebutuhan distribusi makanan dalam program MBG turut mendorong permintaan kendaraan niaga.
Menurutnya, sekitar setengah dari permintaan kendaraan fleet perusahaan berasal dari kebutuhan operasional program MBG, sementara sisanya berasal dari perusahaan swasta yang melakukan peremajaan armada kendaraan.
Potensi Program Sosial dengan Dampak Ekonomi Besar
Dengan pengelolaan yang transparan, pengawasan yang kuat, serta keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok, MBG dinilai berpotensi menjadi salah satu program sosial dengan dampak ekonomi paling luas di Indonesia.
Riset akademik tersebut menunjukkan bahwa kebijakan sosial yang dirancang secara komprehensif tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.
