Program Koperasi Merah Putih Hadapi Kendala Pasokan Kendaraan, Impor Jadi Opsi Darurat

JAKARTA — Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dijalankan PT Agrinas Pangan Nusantara menghadapi kendala dalam pemenuhan kendaraan operasional. Negosiasi dengan sejumlah produsen otomotif yang memiliki pabrik di Indonesia belum sepenuhnya menghasilkan kesepakatan, sehingga opsi impor dipertimbangkan sebagai langkah darurat untuk memastikan kelancaran program pada 2026.

Pasokan Lokal Terbatas

PT Agrinas Pangan Nusantara telah melakukan komunikasi dengan berbagai produsen kendaraan, termasuk Astra Group, Mitsubishi Fuso, Mitsubishi, Hino, hingga Foton. Namun tidak semua produsen mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Kesepakatan dengan Isuzu, misalnya, hanya menghasilkan komitmen pasokan 900 unit. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan keterbatasan tersebut terjadi karena proses negosiasi berlangsung terlambat sehingga produsen kesulitan memperoleh karoseri dari mitra lokal yang sudah terikat kontrak dengan merek lain.

Di segmen truk, Mitsubishi Fuso melalui Krama Yudha menyanggupi pasokan sekitar 20.600 unit hingga akhir tahun, sementara Hino mampu menyediakan hingga 10.000 unit setelah koordinasi dengan pihak Jepang. Produsen asal China, Foton, juga siap menyuplai 13.500 unit truk Auman.

Kendala Harga dan Produksi Pikap

Negosiasi kendaraan jenis pikap berjalan lebih sulit. Upaya kesepakatan dengan Suzuki untuk model Carry tidak tercapai karena keterbatasan kapasitas produksi dan skema harga. Produksi model seperti Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max diperkirakan hanya berkisar 100.000–120.000 unit per tahun dan sebagian besar sudah terserap pasar domestik.

Joao menyebut tingginya permintaan kendaraan niaga dalam negeri, termasuk dari sektor pertanian dan program pemerintah lain, membuat kapasitas produksi tidak mencukupi kebutuhan proyek KDKMP. Selain itu, produsen lokal cenderung mempertahankan harga per unit tanpa memberikan potongan signifikan meski pembelian dilakukan dalam jumlah besar.

Impor dari India Jadi Alternatif

Karena kesepakatan harga dan pasokan belum tercapai dengan produsen dalam negeri, Agrinas mempertimbangkan impor kendaraan dari luar negeri, khususnya dari India melalui produsen seperti Tata Motors dan Mahindra. Opsi ini disebut sebagai langkah terakhir untuk menjamin ketersediaan kendaraan operasional.

Meski demikian, keputusan impor memiliki sejumlah risiko, antara lain potensi kendala logistik, biaya tambahan distribusi, serta tantangan layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang. Faktor keamanan pasokan jangka panjang juga menjadi pertimbangan penting.

Strategi Pengadaan ke Depan

Pengadaan kendaraan skala besar dinilai membutuhkan perencanaan matang, termasuk negosiasi jangka panjang dengan produsen, diversifikasi pemasok, fleksibilitas spesifikasi kendaraan, serta analisis total biaya kepemilikan yang mencakup biaya operasional dan perawatan.

Kesimpulan

Tantangan pasokan dan harga dari produsen lokal mendorong Program Koperasi Merah Putih mempertimbangkan impor sebagai solusi sementara. Langkah ini diambil untuk menjaga kelancaran operasional program, sembari tetap memperhitungkan risiko logistik dan keberlanjutan pasokan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *