Jakarta — Masa depan bangsa selalu dimulai dari ruang kelas. Di sanalah anak-anak belajar membaca dunia, memupuk mimpi, dan menyiapkan diri menjadi generasi penerus. Namun pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh buku pelajaran, gedung sekolah, atau kurikulum yang baik. Anak-anak juga membutuhkan kondisi fisik yang sehat dan gizi yang cukup agar mampu belajar dengan fokus dan penuh semangat. Karena itulah, setiap kebijakan yang menyangkut pendidikan dan kesejahteraan siswa sering memicu perhatian besar dari masyarakat. Ketika muncul perdebatan mengenai anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam APBN 2026, publik pun bertanya-tanya apakah program tersebut justru mengurangi anggaran pendidikan atau sebaliknya menjadi bagian dari penguatan kualitas generasi bangsa.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan anggaran pendidikan nasional sebesar Rp769 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp724 triliun. Dari total tersebut, terdapat alokasi Rp223,5 triliun yang digunakan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis melalui Badan Gizi Nasional. Kebijakan ini sempat menuai polemik karena sebagian pihak menilai bahwa keberadaan komponen MBG dalam anggaran pendidikan dapat mengurangi alokasi bagi kebutuhan lain seperti tunjangan guru, pembangunan infrastruktur sekolah, maupun program revitalisasi pendidikan. Menanggapi hal tersebut, Direktur Garuda Institute, Irvan Mahmud, menegaskan bahwa proses penganggaran MBG telah melalui pembahasan bersama di DPR RI dan disepakati oleh seluruh fraksi. Ia juga menjelaskan bahwa narasi yang menyebut MBG memotong anggaran pendidikan tidak sesuai dengan fakta yang tercantum dalam struktur APBN.
Fakta-fakta yang ada justru menunjukkan bahwa anggaran untuk berbagai sektor pendidikan mengalami peningkatan. Tunjangan guru ASN daerah misalnya, naik dari Rp70 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp74,7 triliun pada tahun 2026. Anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan revitalisasi sekolah juga meningkat dari Rp21,24 triliun menjadi Rp23,06 triliun. Selain itu, pemerintah meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik dengan menaikkan tunjangan guru non-ASN dari Rp1,5 juta pada 2025 menjadi Rp2 juta pada 2026. Insentif guru honorer yang selama dua dekade stagnan juga mengalami kenaikan menjadi Rp400 ribu. Perubahan juga dilakukan dalam sistem penyaluran tunjangan, yang sebelumnya melalui pemerintah daerah setiap tiga bulan, kini langsung ditransfer ke rekening guru setiap bulan sehingga lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
Tidak hanya itu, berbagai program pendidikan strategis tetap berjalan bahkan diperluas. Program Indonesia Pintar (PIP) tetap dipertahankan dan cakupannya diperluas hingga menjangkau sekitar 888 ribu murid taman kanak-kanak dengan bantuan Rp450 ribu per tahun. Program digitalisasi pembelajaran dan pelatihan guru juga terus dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah. Pemerintah bahkan memperkuat ekosistem pendidikan melalui berbagai program lain seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, serta peningkatan kuota beasiswa melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Semua langkah ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperluas dan diperkuat.
Sebagian pihak mungkin tetap meragukan apakah memasukkan Program Makan Bergizi Gratis ke dalam anggaran pendidikan merupakan langkah yang tepat. Kritik tersebut berangkat dari kekhawatiran bahwa fokus pendidikan akan bergeser dari peningkatan kualitas pembelajaran menjadi program bantuan sosial. Namun pandangan ini perlu dilihat secara lebih utuh. Gizi yang baik merupakan fondasi bagi kemampuan belajar anak. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, siswa akan kesulitan berkonsentrasi, mudah lelah, dan tidak mampu menyerap pelajaran secara maksimal. Dengan demikian, program MBG bukanlah pengganti pendidikan, melainkan pelengkap yang memastikan investasi besar dalam pendidikan benar-benar memberikan hasil yang optimal bagi perkembangan generasi muda.
Pada akhirnya, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara parsial. Pendidikan yang kuat harus berjalan seiring dengan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak. Peningkatan anggaran pendidikan hingga Rp769 triliun menunjukkan komitmen negara untuk memperkuat masa depan generasi Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis, bersama peningkatan tunjangan guru, pembangunan sekolah, perluasan bantuan pendidikan, dan penguatan beasiswa, merupakan bagian dari strategi besar untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat kebijakan ini secara utuh dan objektif. Dukungan terhadap kebijakan yang berpihak pada kualitas manusia Indonesia adalah langkah penting untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi jalan menuju kemajuan bangsa.
