Pemerintah Gelontorkan Rp4 Triliun untuk Pompanisasi Hadapi Ancaman El Nino Ekstrem

JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk program pompanisasi lahan pertanian guna menjaga produksi pangan di tengah ancaman El Nino ekstrem atau “El Nino Godzilla”, Selasa (7/4/2026), di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Program ini dilakukan dengan mendistribusikan puluhan ribu pompa air secara nasional agar sawah tetap terairi selama musim kemarau panjang.

Amran menyatakan, pemerintah akan mengerahkan sekitar 80.000 unit pompa yang akan disebar ke berbagai wilayah terdampak kekeringan. “Itu kurang lebih Rp3 triliun-Rp4 triliun,” ujar Amran. Ia menambahkan, “Ada pompanisasi kita sebar pompa itu kurang lebih Rp3-Rp4 triliun kurang lebih 80.000 unit seluruh Indonesia.”

Lebih lanjut, Amran memastikan bahwa fasilitas tersebut diberikan tanpa biaya kepada petani. “Kita berikan pompa secara cuma-cuma,” katanya. Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum turut memperbaiki jaringan irigasi, khususnya pada lahan sawah rawa seluas 800.000 hektar, guna meningkatkan distribusi air di daerah pertanian.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Amran juga menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk memetakan wilayah yang rawan kekeringan serta mengoptimalkan pengelolaan sumber air melalui rehabilitasi embung, sumur dangkal, dan sumur dalam. Kementerian Pertanian turut menyiagakan 171.000 unit alat dan mesin pertanian selama periode 2024–2025. “Target 2026 37.000 unit distribusi infrastruktur air irigasi perpompaan, irigasi perpipaan bangun konservasi rehab jaringan irigasi tersier dan pompa air sebanyak 94.000 unit 2024-2025,” kata Amran.

Langkah ini diambil menyusul peringatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait potensi El Nino berkekuatan besar yang dapat memicu kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin, menyebut fenomena ini berpotensi terjadi pada periode April hingga Oktober 2026 dan berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan sumber daya air. “Fenomena ini berpotensi memicu kekeringan yang dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk pertanian dan sumber daya air,” ujarnya.

Secara historis, fenomena El Nino telah beberapa kali menyebabkan penurunan produksi pangan nasional akibat berkurangnya curah hujan dan ketersediaan air irigasi. Namun, dampaknya tidak merata di seluruh wilayah. BRIN mencatat bahwa sejumlah daerah di Indonesia timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru berpotensi mengalami curah hujan tinggi selama periode tersebut.

Dari sisi dampak kebijakan, program pompanisasi dinilai menjadi upaya mitigasi jangka pendek untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional, khususnya beras, di tengah ancaman perubahan iklim. Penyediaan pompa gratis berpotensi meringankan beban petani, meningkatkan indeks pertanaman, serta menjaga pasokan pangan agar tidak terganggu selama musim kemarau ekstrem. Di sisi lain, efektivitas program ini bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung dan distribusi yang tepat sasaran.

Ke depan, pemerintah akan melanjutkan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi pompa berjalan sesuai target serta mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi. Selain itu, pemetaan wilayah rawan kekeringan akan terus diperbarui guna meningkatkan respons terhadap dampak El Nino dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *