Jakarta – Pemerintah Indonesia bersama UNICEF meluncurkan program nasional lima tahun untuk mempercepat perbaikan gizi ibu serta menurunkan kasus wasting (gizi buruk akut) pada anak balita di seluruh Indonesia. Program strategis ini dijalankan oleh Kementerian Kesehatan dengan dukungan inisiatif Child Nutrition Fund (CNF).
Peluncuran program yang berlangsung di Jakarta pada 5 Maret 2026 ini menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat layanan kesehatan dan gizi bagi ibu dan anak di 38 provinsi.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono menegaskan peningkatan kualitas gizi ibu dan anak merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Indonesia memiliki komitmen politik yang kuat untuk meningkatkan gizi ibu dan menurunkan masalah kekurangan gizi, termasuk wasting pada anak balita. Upaya ini menjadi fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia serta mencegah stunting,” ujar Dante.
Pemerintah Perluas Layanan Gizi bagi Ibu Hamil
Melalui program ini, pemerintah memperluas paket layanan gizi dalam sistem kesehatan nasional agar lebih banyak ibu hamil mendapatkan intervensi gizi yang tepat.
Salah satu langkah utama adalah pemberian Multiple Micronutrient Supplementation (MMS) bagi ibu hamil, yaitu kombinasi vitamin dan mineral yang berfungsi untuk mencegah anemia serta menurunkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
Intervensi ini diharapkan mampu meningkatkan kesehatan ibu sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal sejak dalam kandungan.
Perkuat Penanganan Gizi Buruk pada Balita
Selain fokus pada ibu hamil, program ini juga memperkuat deteksi dini serta penanganan gizi buruk pada anak balita melalui pengembangan program Integrated Management of Acute Malnutrition (IMAM).
Melalui pendekatan ini, anak yang mengalami gizi buruk akan mendapatkan akses lebih luas terhadap makanan terapi siap konsumsi (Ready-to-Use Therapeutic Food/RUTF) serta layanan perawatan kesehatan sesuai standar.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penanganan kasus wasting yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia.
Sistem Kesehatan dan Rantai Pasok Diperkuat
Pemerintah juga memperkuat sistem kesehatan untuk mendukung keberhasilan program ini, termasuk melalui:
- penguatan rantai pasok komoditas gizi,
- pengembangan sistem informasi gizi berbasis digital,
- serta dukungan terhadap produksi dalam negeri untuk produk gizi esensial seperti MMS dan RUTF.
Pendekatan ini bertujuan memastikan intervensi gizi dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Target Jangkau Jutaan Ibu dan Anak
Program ini menargetkan hingga 4,3 juta ibu hamil menerima suplementasi mikronutrien hingga tahun 2029.
Selain itu, seluruh anak dengan gizi buruk yang dirujuk ke layanan kesehatan primer akan mendapatkan dukungan makanan terapi gizi sesuai standar medis.
Dana program ini akan didukung melalui skema matching fund dari Child Nutrition Fund (CNF), yang akan melengkapi investasi pemerintah sehingga mendorong peningkatan pembiayaan domestik untuk program gizi.
Upaya Mengatasi Tantangan Gizi Nasional
Meskipun Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam menurunkan berbagai masalah gizi, tantangan masih tetap ada.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, hampir satu dari empat ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Selain itu sekitar 1,6 juta anak balita mengalami wasting, termasuk lebih dari 260 ribu anak dengan kondisi wasting berat yang berisiko mengancam jiwa.
Perwakilan UNICEF Indonesia Maniza Zaman menilai program ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat perbaikan gizi ibu dan anak di Indonesia.
“Gizi yang adekuat selama kehamilan dan pada awal kehidupan sangat penting agar setiap anak dapat tumbuh sehat dan memperoleh awal kehidupan terbaik,” ujarnya.
Dengan dukungan berbagai mitra pembangunan seperti WHO, WFP, Bank Dunia, serta jaringan Scale Up Nutrition, pemerintah optimistis program ini mampu mempercepat peningkatan kualitas gizi nasional dan mendukung pembangunan generasi Indonesia yang lebih sehat di masa depan.
