Pemanfaatan AI di Sekolah Rakyat Perkuat Transformasi Pendidikan Digital dan Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

Pemerintah terus mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah Rakyat. Inovasi ini menjadi salah satu langkah strategis untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih modern, adaptif, serta mampu mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Kementerian Sosial (Kemensos), pemerintah mengembangkan sistem pembelajaran dan tata kelola pendidikan berbasis AI yang akan diterapkan di 178 Sekolah Rakyat mulai tahun ajaran 2026/2027. Pengembangan tersebut merupakan hasil Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang melibatkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya sebagai bagian dari pengembangan talenta digital nasional.

Pemanfaatan AI di lingkungan Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga menjadi solusi dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan pendidikan. Sistem tersebut dirancang untuk membantu kepala sekolah dan guru dalam menyusun kurikulum, merancang materi ajar, menyusun perangkat evaluasi pembelajaran, hingga mendukung proses administrasi pendidikan secara lebih efisien.

Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico, menjelaskan bahwa teknologi AI akan mendukung tata kelola pendidikan secara menyeluruh mulai dari perencanaan hingga proses evaluasi pembelajaran.

“Secara prinsip, tata kelola itu mulai dari hulu sampai hilir. Ini salah satu contoh yang akan kami kembangkan. Kami sudah sepakat akan membawa aplikasinya ke 178 Sekolah Rakyat yang beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027,” ujar Robben.

Menurutnya, implementasi teknologi tersebut akan mempermudah para pendidik dalam menyusun kurikulum, membuat materi pembelajaran yang lebih interaktif, serta menghasilkan soal pre-test dan post-test secara lebih efektif sesuai kebutuhan peserta didik.

Selain menghadirkan aplikasi berbasis AI, pemerintah juga menyiapkan program pendampingan bagi para guru dan tenaga kependidikan. Kemensos akan bekerja sama dengan para pengembang AITF untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada lebih dari 5.000 guru Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Pendampingan tersebut bertujuan memastikan seluruh tenaga pendidik mampu memanfaatkan teknologi AI secara optimal dalam proses belajar mengajar sekaligus meningkatkan literasi digital di lingkungan sekolah.

Lebih lanjut, sistem AI yang dikembangkan akan diintegrasikan dengan Learning Management System (LMS) Sekolah Rakyat, sehingga seluruh proses pembelajaran dapat berjalan secara lebih terstruktur, terdokumentasi, dan mudah diakses oleh guru maupun peserta didik.

Integrasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun digital quotient atau kecerdasan digital peserta didik sejak dini agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di masa depan.

Robben menegaskan bahwa Kemensos berkomitmen memastikan implementasi teknologi AI dapat diterapkan secara merata di seluruh Sekolah Rakyat. Pemerintah juga telah menyiapkan dukungan anggaran agar inovasi yang masih berupa prototipe tersebut dapat berkembang menjadi aplikasi yang siap digunakan secara nasional.

“Kami di Kemensos atas izin Pak Menteri Sosial akan memastikan pelaksanaan program ini bisa dibantu dan di-cover dengan anggaran yang proper. Ini kan prototype kemudian harus diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang sebenarnya,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan seluruh inovasi hasil Program AITF dapat diimplementasikan secara penuh pada akhir tahun 2026 sebagai bagian dari percepatan transformasi digital di sektor pendidikan nasional.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menjelaskan bahwa Program AITF merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dengan sejumlah perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Selain Universitas Brawijaya, program tersebut juga melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang masing-masing mengembangkan solusi berbasis AI sesuai kebutuhan sektor publik.

“Untuk UB fokus di Sekolah Rakyat yang akan digunakan oleh Kemensos dan bantuan sosial yang nanti akan digunakan oleh Pemprov Jawa Timur,” ujar Bonifasius.

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan talenta digital muda ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong inovasi teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Selain memperkuat kualitas pendidikan, pengembangan AI juga menjadi wadah bagi generasi muda Indonesia untuk menghasilkan solusi digital yang relevan terhadap kebutuhan pembangunan nasional.

Transformasi digital melalui pemanfaatan AI di Sekolah Rakyat diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, memperkuat kapasitas guru, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berbasis teknologi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan era digital sekaligus mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *