Jakarta — Isu potensi kemunculan El Nino kuat atau “Godzilla” di Indonesia pada 2026 mendapat sorotan publik. Namun, pengamat pertanian Khudori menegaskan bahwa peluang terjadinya fenomena ekstrem tersebut masih kecil, sekitar 15–20 persen, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sehingga masyarakat diminta tidak panik dan tetap mengacu pada informasi resmi.
Khudori menyampaikan bahwa informasi mengenai El Nino “Godzilla” masih belum pasti dan harus disikapi secara hati-hati. Ia menilai peringatan yang disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan publik dan mendorong kesiapan pemerintah.
“Soal El Nino ‘Godzilla’ ini masih sumir. Saya tak hendak mengecilkan maksud periset BRIN. Mungkin agar publik aware dan pemerintah ambil langkah sigap,” ujar Khudori, Rabu (25/3/2026).
Ia menambahkan bahwa interpretasi berlebihan justru berpotensi menimbulkan kepanikan yang kontraproduktif. Untuk itu, ia telah mengonfirmasi langsung kepada BMKG guna memperoleh gambaran yang lebih akurat.
“Menurut kolega saya di BMKG, peluang untuk sampai level super kuat atau ‘Godzilla’ itu hanya 15–20 persen. Peluang terbesarnya justru pada level moderate,” katanya.
Khudori juga menyoroti keterbatasan dalam prediksi fenomena ENSO (El Nino–Southern Oscillation). Ia menjelaskan bahwa proyeksi yang dirilis pada periode Februari hingga April umumnya hanya memiliki tingkat akurasi tinggi untuk tiga bulan ke depan.
“Prediksi ENSO itu akurasinya baik hanya sampai tiga bulan. Jadi untuk bulan keempat dan seterusnya harus hati-hati dalam menafsirkan,” ujarnya.
Sebelumnya, periset Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin, mengungkapkan potensi El Nino kuat pada 2026 yang dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia. Secara ilmiah, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia.
Selain itu, sejumlah model global juga menunjukkan kemungkinan terjadinya Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperkuat dampak kekeringan. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi menyebabkan pergeseran pola hujan, di mana curah hujan lebih banyak terjadi di Samudra Pasifik, sementara wilayah Indonesia mengalami kekurangan awan dan hujan.
Secara historis, fenomena El Nino kuat pernah berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di Indonesia, termasuk pada periode 2015 dan 2023, yang memicu kekeringan di sejumlah wilayah sentra produksi pangan. Kondisi serupa berpotensi kembali terjadi apabila El Nino berkembang ke fase kuat.
Dari sisi dampak, potensi kekeringan dapat memengaruhi produksi pertanian, terutama di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur sebagai lumbung pangan nasional. Selain itu, berkurangnya curah hujan juga berisiko meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air bersih serta memicu kenaikan harga pangan akibat terganggunya produksi.
Meski demikian, BRIN memperkirakan dampak fenomena ini tidak merata. Wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera masih berpotensi mengalami curah hujan relatif tinggi meskipun berada dalam periode musim kemarau.
Ke depan, pemerintah melalui BMKG dan BRIN akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global serta memperbarui proyeksi secara berkala. Pemerintah juga diharapkan memperkuat langkah mitigasi, termasuk kesiapan sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air, guna mengantisipasi potensi dampak yang mungkin timbul.
