Mentan Dorong Kampus Perkuat Hilirisasi Inovasi Pertanian di Tengah Lonjakan Stok Beras Nasional

JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian stok beras nasional yang diproyeksikan menembus 5 juta ton harus diiringi peran aktif perguruan tinggi dalam mendorong inovasi dan hilirisasi teknologi pertanian. Hal itu disampaikan saat menghadiri Idul Fitri FunFest 2026 yang diselenggarakan Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Amran menyebut capaian stok tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia. “Sekarang, bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peningkatan produksi dalam negeri telah mengurangi ketergantungan pada impor beras yang sebelumnya mencapai jutaan ton per tahun. “Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun,” kata Amran.

Meski demikian, Amran menekankan bahwa tantangan ke depan tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan inovasi teknologi secara nyata. Ia meminta kampus tidak hanya fokus pada riset, tetapi juga mampu membawa hasil penelitian ke tahap hilirisasi.

“Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni,” tegasnya.

Menurut dia, selama ini kekuatan riset perguruan tinggi sudah baik, namun masih lemah dalam aspek komersialisasi dan pemasaran inovasi. “Kelemahan kita di kampus adalah tidak mampu mengkomunikasikan apa yang kita ciptakan dan harus melihat pasar,” ujarnya.

Sebagai contoh, Amran menyinggung inovasi alat mesin pertanian dari Institut Teknologi Sepuluh November berupa traktor perahu yang dinilai potensial untuk dikembangkan lebih lanjut. Ia mendorong agar inovasi tersebut terus disempurnakan dan diproduksi secara massal agar memberikan manfaat langsung bagi petani.

Secara konteks, pemerintah saat ini tengah mendorong kemandirian pangan nasional sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Capaian stok beras yang tinggi menjadi indikator keberhasilan produksi, namun keberlanjutan sektor pertanian dinilai bergantung pada adopsi teknologi dan efisiensi sistem produksi.

Dari sisi dampak, keterlibatan aktif kampus dalam hilirisasi inovasi berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian, menekan biaya produksi, serta membuka peluang industri berbasis teknologi dalam negeri. Bagi masyarakat, hal ini dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien.

Amran juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun kemandirian nasional. “Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS, kita harus kolaborasi, demi Merah Putih,” ujarnya.

Ke depan, pemerintah menyatakan siap mendukung dan menyerap inovasi dalam negeri, dengan catatan kampus mampu memproduksi dalam skala besar dan menjamin kualitas. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat hilirisasi dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *