Semarang – Program makan bergizi gratis untuk anak-anak (MBG) di Jawa Tengah tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan ekonomi desa melalui keterlibatan koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat sedikitnya 119 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menjalin kemitraan dengan BUMDes dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk memasok kebutuhan bahan pangan program MBG.
Dari jumlah tersebut, 53 SPPG bekerja sama dengan BUMDes, sementara 64 SPPG bermitra dengan KDKMP dalam penyediaan bahan pangan.
Pasokan Bahan Pangan dari Desa
Kemitraan tersebut melibatkan berbagai komoditas pangan yang dipasok langsung dari desa-desa di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Beberapa bahan pangan yang disuplai antara lain:
- ayam
- telur
- sayuran
- bumbu dapur
- berbagai bahan makanan lainnya
Skema ini dinilai mampu memperkuat rantai pasok pangan lokal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa program MBG memiliki dampak luas, tidak hanya pada aspek kesehatan tetapi juga pada penguatan ekonomi daerah.
“Program MBG ini bukan sekadar soal makan bergizi. Di dalamnya ada investasi strategis, membangun sumber daya manusia, sekaligus efek berganda terhadap perekonomian daerah, termasuk penguatan wirausaha di 35 kabupaten/kota,” ujar Luthfi saat Rapat Koordinasi MBG di Grhadhika Bhakti Praja, Semarang, Selasa (3/3/2026).
Integrasi MBG dengan Koperasi Desa
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong integrasi program MBG dengan koperasi desa agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Saat ini perkembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jawa Tengah menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Dari total 8.523 desa dan kelurahan, sebanyak 6.217 koperasi atau sekitar 73 persen telah beroperasi.
Beberapa capaian KDKMP di Jawa Tengah antara lain:
- 200.007 anggota koperasi
- 598 gedung koperasi
- kontribusi sekitar 35 persen dari total gedung KDKMP nasional
Gubernur Ahmad Luthfi meminta para kepala daerah untuk memperkuat konektivitas antara program MBG dan koperasi desa.
“Saya minta para bupati dan wali kota melakukan konektivitas antara MBG dengan koperasi di daerah masing-masing. Ini harus linear dan saling menguatkan,” tegasnya.
Jawa Tengah Targetkan Produksi Padi 10,55 Juta Ton
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Tengah juga menargetkan peningkatan produksi padi untuk mendukung keberlanjutan program MBG.
Pada 2026, produksi padi ditargetkan mencapai 10,55 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau meningkat sekitar 12,22 persen dibandingkan realisasi tahun 2025.
Target ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan pangan sekaligus memperkuat perputaran ekonomi desa.
MBG Diharapkan Menggerakkan UMKM Desa
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa program makan bergizi gratis untuk anak-anak memang dirancang untuk menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Ia menekankan agar SPPG tidak bergantung pada pasokan dari grosir besar di luar daerah, melainkan memprioritaskan produk pangan dari desa.
“Jalannya ekonomi UMKM di desa itu ya lewat SPPG. Jangan lagi cari grosir jauh-jauh. Libatkan koperasi desa, BUMDes, petani, peternak, dan nelayan sebagai produsen pangan lokal,” ujar Zulkifli Hasan.
Menurutnya, koperasi desa juga dapat berfungsi sebagai agregator sekaligus penyangga harga komoditas. Jika harga gabah, jagung, ikan, atau komoditas lain turun di bawah harga acuan, koperasi dapat menyerap hasil produksi tersebut dan menyalurkannya melalui skema program MBG.
Dengan skema tersebut, program makan bergizi gratis untuk anak-anak tidak hanya meningkatkan kualitas gizi generasi muda, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa di berbagai daerah.
