Indonesia Tuntut Investigasi Transparan PBB atas Tewasnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jakarta – Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Umar Hadi, menuntut penyelidikan cepat, menyeluruh, dan transparan atas serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan tiga prajurit TNI anggota Satgas Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL pada 29–30 Maret 2026. Tuntutan tersebut disampaikan dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (31/3/2026), sebagai respons atas insiden yang juga melukai lima personel penjaga perdamaian lainnya.

Dalam pernyataan resminya, Umar Hadi menegaskan bahwa Indonesia mendesak Dewan Keamanan untuk mengawal proses investigasi hingga tuntas dan memastikan pelaku bertanggung jawab tanpa kekebalan hukum. “Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat Dewan Keamanan,” tegas Umar di hadapan forum internasional tersebut.

Indonesia juga menyerukan penghentian segera tindakan agresi serta kepatuhan terhadap hukum internasional. “Indonesia mendesak semua pihak, termasuk Israel, menghentikan agresi serta mematuhi hukum internasional guna menjamin keselamatan personel dan perlindungan aset milik Perserikatan Bangsa-Bangsa,” lanjutnya.

Serangan tersebut menewaskan tiga prajurit TNI, yakni Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan (25), dan Prajurit Kepala Fahrizal Rhomadhon (27). Berdasarkan laporan resmi, Praka Fahrizal gugur di pos UNIFIL wilayah Adchit Al Qusayr, sementara Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad tewas dalam serangan terhadap konvoi logistik di Bani Hayyan. Selain korban jiwa, lima personel lainnya mengalami luka-luka dan saat ini menjalani perawatan.

Indonesia turut menekankan pentingnya penanganan lanjutan terhadap korban, termasuk pemulangan jenazah secara cepat dan bermartabat serta pemberian perawatan medis optimal bagi personel yang terluka. Pemerintah juga mendorong langkah darurat untuk meningkatkan perlindungan pasukan, antara lain melalui peninjauan ulang protokol keamanan dan penguatan rencana evakuasi di tengah eskalasi konflik.

Sebagai konteks, misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dibentuk sejak 1978 untuk menjaga stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon selatan pasca konflik dengan Israel. Indonesia sendiri telah berkontribusi dalam operasi penjaga perdamaian PBB sejak 1957 dan menjadi salah satu penyumbang pasukan terbesar, termasuk melalui Kontingen Garuda yang ditempatkan di berbagai wilayah konflik.

Insiden ini mempertegas risiko tinggi yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di zona konflik aktif, khususnya di kawasan perbatasan yang kerap mengalami eskalasi militer. Bagi Indonesia, kejadian ini berpotensi meningkatkan perhatian publik terhadap keselamatan prajurit di luar negeri serta mendorong evaluasi kebijakan penugasan dan perlindungan personel TNI dalam misi internasional.

Pertemuan Dewan Keamanan tersebut diinisiasi oleh Indonesia bersama Prancis sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan operasi perdamaian global. Ke depan, Indonesia akan terus mendorong PBB untuk memastikan investigasi berjalan transparan, memperkuat perlindungan pasukan, serta menjamin akuntabilitas atas setiap pelanggaran terhadap hukum internasional di wilayah konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *