Saat ini dunia sedang berada dalam situasi yang tidak stabil. Konflik internasional yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah mengguncang pasar energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak secara tajam. Banyak negara di berbagai belahan dunia merasakan dampaknya, termasuk Indonesia. Kenaikan harga energi bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga ujian bagi ketahanan bangsa dalam menghadapi gejolak global. Di tengah situasi seperti ini, yang paling penting adalah memahami masalah secara jernih dan tidak terjebak pada narasi yang menyesatkan.
Lonjakan harga energi yang terjadi saat ini bukanlah akibat kebijakan Indonesia ataupun karena negara ini tunduk pada kekuatan mana pun. Kenaikan tersebut merupakan dampak langsung dari konflik global yang mempengaruhi jalur distribusi energi dunia, termasuk Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia tentu ikut merasakan tekanan tersebut. Namun pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas melalui berbagai langkah, mulai dari pengendalian subsidi energi, perlindungan sosial bagi masyarakat, hingga stabilisasi ekonomi nasional. Langkah-langkah ini dilakukan semata-mata untuk memastikan rakyat tetap terlindungi di tengah situasi global yang tidak menentu.
Indonesia sejak awal memilih posisi yang jelas: netral dan berfokus pada kepentingan nasional. Negara ini tidak berpihak pada konflik mana pun dan tidak menjadi bagian dari pertarungan geopolitik yang sedang berlangsung. Prioritas pemerintah adalah menjaga stabilitas ekonomi, memastikan pasokan energi tetap tersedia, serta melindungi masyarakat dari dampak gejolak global. Sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu melewati berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi hingga pandemi global, karena kekuatan persatuan dan solidaritas masyarakatnya.
Karena itu, narasi yang mencoba menggambarkan bahwa situasi ini merupakan bentuk “ketundukan” Indonesia terhadap kekuatan asing adalah narasi yang tidak berdasar. Begitu pula dengan upaya memprovokasi masyarakat dengan membungkus persoalan ekonomi dalam sentimen agama atau ideologi tertentu. Justru di tengah krisis global seperti ini, yang dibutuhkan adalah ketenangan, kejernihan berpikir, dan persatuan nasional — bukan provokasi yang dapat memperkeruh keadaan. Menyebarkan narasi yang memecah belah hanya akan memperburuk situasi dan merugikan masyarakat sendiri.
Indonesia pernah menghadapi banyak badai dalam sejarahnya, dan setiap kali itu pula bangsa ini mampu berdiri kembali karena kekuatan persatuan rakyatnya. Krisis global yang sedang terjadi hari ini bukanlah alasan untuk saling menyalahkan atau terpecah. Sebaliknya, ini adalah saat bagi seluruh elemen bangsa untuk tetap bersatu, saling mendukung, dan menjaga stabilitas negara. Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar Indonesia bukan hanya pada sumber dayanya, tetapi pada persatuan rakyatnya. Dengan persatuan itulah Indonesia akan mampu melewati setiap ujian zaman.
