Harga BBM ASEAN Melonjak Imbas Krisis Energi Global, Indonesia Ikut Sesuaikan Non-Subsidi

Jakarta, Maret 2026 — Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di kawasan Asia Tenggara seiring melonjaknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026, dengan Indonesia turut menyesuaikan harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 di tengah tekanan harga global dan gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak mentah global menjadi pemicu utama. Per Maret 2026, harga minyak jenis Brent telah menembus USD103 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD91,8 per barel. Kondisi ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

PT Pertamina Patra Niaga dalam keterangan resminya menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk merespons dinamika global. “Penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan tren harga minyak mentah dunia, MOPS, serta nilai tukar rupiah,” ujar perwakilan perusahaan.

Lebih lanjut, Pertamina menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. “Kebijakan ini penting untuk memastikan keberlanjutan distribusi energi di tengah tekanan biaya impor yang meningkat,” demikian pernyataan resmi.

Secara regional, kenaikan harga BBM terjadi hampir di seluruh negara ASEAN dengan tingkat yang bervariasi. Sri Lanka mencatat lonjakan tertinggi hingga 30 persen dari LKR311 menjadi LKR400 per liter. Kamboja menaikkan harga sekitar 10 persen menjadi USD1,05 per liter. Sementara negara dengan basis industri seperti Vietnam, Laos, dan Filipina mengalami kenaikan di kisaran 6 hingga 8 persen, dipengaruhi fluktuasi harga Mean of Platts Singapore (MOPS) sebagai acuan regional.

Thailand juga melakukan penyesuaian harga sekitar 5 persen menjadi 38 baht per liter, meskipun pemerintah setempat melakukan intervensi pasar. Secara umum, kenaikan harga di kawasan ini mencerminkan tekanan biaya impor energi yang meningkat serta keterbatasan ruang fiskal masing-masing negara dalam memberikan subsidi.

Di Indonesia, penyesuaian harga BBM non-subsidi mencakup kenaikan Rp500 hingga Rp1.000 per liter. Harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Turbo naik menjadi Rp13.100 per liter. Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS turut menjadi faktor penentu dalam penyesuaian harga.

Pemerintah menegaskan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap dipertahankan di level Rp10.000 per liter untuk menjaga daya beli masyarakat. “Subsidi tetap diberikan untuk melindungi masyarakat dari dampak langsung gejolak harga energi global,” ujar perwakilan pemerintah.

Kenaikan harga BBM di kawasan ASEAN diperkirakan berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan transportasi, yang berpotensi mendorong inflasi di masing-masing negara. Sektor industri dan usaha kecil menengah menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan biaya operasional.

Krisis energi global ini juga mulai berdampak luas, seperti yang terjadi di India dengan laporan kelangkaan gas memasak di sejumlah wilayah, termasuk New Delhi, akibat terganggunya rantai pasok energi.

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah Indonesia menyatakan akan terus memantau perkembangan global, menjaga stabilitas pasokan energi, serta memperkuat strategi diversifikasi energi dan diplomasi internasional guna meredam dampak krisis yang berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *