Nabire – PT Freeport Indonesia (PTFI) yang beroperasi di kompleks tambang Grasberg, Papua, kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan tambang kelas dunia ini mencatat kontribusi finansial dan sosial yang signifikan bagi negara dan masyarakat Papua. Di sisi lain, sentimen negatif dan ekspektasi publik yang tinggi masih terus membayangi.
Setoran Triliunan untuk Negara dan Daerah
Pada April 2025, PTFI melaporkan setoran laba bersih sebesar Rp7,73 triliun kepada pemerintah pusat dan daerah. Dari jumlah tersebut, Rp3,1 triliun diterima pemerintah pusat, sementara Rp4,63 triliun mengalir ke pemerintah daerah di Papua Tengah.
Distribusi untuk daerah mencakup:
- Pemerintah Provinsi Papua Tengah sekitar Rp1,16 triliun
- Pemerintah Kabupaten Mimika sekitar Rp1,92 triliun
- Tujuh kabupaten lainnya di Papua Tengah sekitar Rp1,55 triliun
Kontribusi tersebut menjadi salah satu sumber penerimaan penting dalam mendukung pembangunan daerah.
Investasi Sosial: 1 Persen untuk Papua
Selain kewajiban fiskal, PTFI menjalankan program investasi sosial sebesar 1 persen dari pendapatan kotor perusahaan. Nilainya mencapai sekitar 100 juta dolar AS atau setara Rp1,67 triliun per tahun.
Dana tersebut dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sejak 1996 dan difokuskan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, pendidikan, kesehatan, serta berbagai program sosial lainnya.
Pendidikan dan Talenta Muda Papua
Di sektor pendidikan, PTFI mendukung pendirian Sekolah Asrama Taruna Papua serta Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) untuk pendidikan vokasi teknis. Selain itu, beasiswa dari tingkat SD hingga S3 telah diberikan kepada ribuan putra-putri Papua sejak 1996.
Kolaborasi terbaru terlihat dari pembangunan Gedung Sains & Kemitraan di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Gedung tiga lantai yang diresmikan pada akhir 2025 itu dilengkapi 14 ruang kelas, auditorium berkapasitas 150 orang, serta fasilitas teknologi modern untuk mendukung pengembangan bidang STEM.
Layanan Kesehatan dan Olahraga
Di bidang kesehatan, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika telah melayani hampir tiga juta pasien selama lebih dari 26 tahun sejak diresmikan pada Agustus 1999. RSMM merupakan milik YPMAK sebagai pengelola dana kemitraan dari PTFI.
Sementara di sektor olahraga, Papua Football Academy (PFA) terus membina talenta muda sepak bola Papua. Tiga pemain muda PFA bahkan mendapat kesempatan mengikuti program “PFA Elite Camp 2026 Goes to Austria” untuk menjalani training camp dan seleksi bersama klub-klub di Austria.
Antara Kontribusi dan Persepsi
Besarnya kontribusi finansial dan sosial PTFI memunculkan dinamika tersendiri. Di tengah keterbatasan kapasitas fiskal pemerintah daerah, perusahaan kerap dipersepsikan memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan Pemda. Hal ini memicu ekspektasi tinggi dari masyarakat agar perusahaan selalu menjadi solusi atas berbagai persoalan.
Sejumlah kalangan menilai fenomena tersebut bukan semata soal komunikasi publik, tetapi juga terkait persepsi sosial dan perbandingan kinerja antara korporasi dan birokrasi pemerintahan.
Pentingnya Kolaborasi
Pengamat menilai, ke depan diperlukan penguatan kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah daerah. Tata kelola profesional, transparansi, serta pembagian peran yang jelas dinilai menjadi kunci agar kontribusi ekonomi dan sosial dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pemerintahan.
Dengan operasi yang masih berlangsung di Papua, PTFI tetap menjadi salah satu aktor penting dalam peta pembangunan daerah. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kerja nyata tersebut dapat terus dikelola secara kolaboratif, sekaligus menjawab berbagai ekspektasi dan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat.
