Pemerintah mengapresiasi keberhasilan ekspor perdana Koperasi Desa Merah Putih pada awal 2026 sebagai bagian dari program penguatan ekonomi berbasis koperasi yang digagas secara nasional. Ekspor dilakukan oleh Koperasi Desa Merah Putih Awunio di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dengan komoditas arang tempurung kelapa sebanyak 50 ton ke pasar Tiongkok. Langkah ini dinilai sebagai bukti meningkatnya daya saing produk desa sekaligus implementasi strategi pemerintah dalam memperkuat rantai pasok dan akses pasar global bagi pelaku ekonomi lokal.
Keberhasilan ekspor tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produksi, standardisasi, serta efisiensi distribusi komoditas unggulan desa. Nilai transaksi ekspor dilaporkan mencapai miliaran rupiah dan berpotensi berlanjut dalam kontrak jangka panjang. Hingga awal 2026, pembangunan dan penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah berjalan di berbagai daerah dengan ribuan unit dalam tahap operasional, yang ditargetkan menjadi pusat distribusi hasil produksi masyarakat sekaligus agregator komoditas unggulan di tingkat desa dan kelurahan.
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik koperasi, tetapi juga penguatan kelembagaan dan akses pasar. “Keberhasilan ekspor ini menunjukkan koperasi desa mampu naik kelas dan berkompetisi di pasar global. Pemerintah memastikan pendampingan manajemen, digitalisasi, dan akses pembiayaan terus diperkuat agar koperasi semakin mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan koperasi desa juga diarahkan menjadi solusi keterbatasan lapangan kerja bagi generasi muda. “Kami berharap Kopdes Merah Putih dapat menjangkau kalangan milenial dan Gen Z sehingga mampu menjadi solusi atas keterbatasan lapangan kerja,” kata Ferry. Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Hugua menyatakan, “Ekspor ini membuktikan bahwa produk desa memiliki kualitas dan daya saing tinggi. Pemerintah daerah akan terus mendorong peningkatan kapasitas produksi dan menjaga konsistensi mutu.”
Pemerintah menilai ekspor oleh koperasi desa merupakan bagian dari transformasi ekonomi nasional yang inklusif dengan menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan baru. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan sedikitnya 25 ribu koperasi telah beroperasi pada Maret 2026 dari rencana 81 ribu unit secara nasional, dengan proyeksi mencapai minimal 60 ribu koperasi aktif pada akhir 2026. Pemerintah juga akan memperluas pelatihan ekspor, mempercepat sertifikasi standar internasional, serta memperkuat akses pembiayaan terjangkau guna memastikan lebih banyak koperasi desa mampu menembus pasar global, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan memperluas kontribusi ekonomi desa terhadap perekonomian nasional.
