Dulu Ditertawakan, Kini Peringatan Prabowo Jadi Kenyataan

Dulu banyak orang menertawakan ketika Prabowo Subianto berbicara tentang kemungkinan terjadi perang dunia. Pernyataannya dianggap berlebihan, bahkan disebut menakut-nakuti rakyat. Kritik datang dari berbagai arah. Anies Baswedan mempertanyakan penggunaan utang negara untuk membeli alutsista yang dianggap tidak produktif, sementara Muhaimin Iskandar menyindir, “Kita tidak sedang perang, mengapa terlalu banyak utang untuk alat perang?” Saat itu banyak yang merasa peringatan Prabowo terlalu jauh dari kenyataan. Bahkan komika Pandji Pragiwaksono pernah menyindir dalam sebuah diskusi publik dengan kalimat, “Mungkin Prabowo benar, kan?”—diucapkan dengan mimik wajah yang terkesan mengenyek, seolah meragukan sekaligus merendahkan.

Namun jika melihat situasi dunia saat ini, gambaran Presiden Prabowo yang dulu dianggap berlebihan justru semakin terasa nyata. Perang antara Rusia dan Ukraina belum juga berakhir, sementara ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran juga memperlihatkan bagaimana eskalasi militer dapat terjadi dengan cepat dan mempengaruhi stabilitas global. Dunia saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian, di mana rivalitas kekuatan besar semakin terbuka dan dampaknya terasa sampai ke sektor ekonomi, energi, dan perdagangan internasional.

Sejak awal Prabowo sebenarnya tidak pernah mengatakan bahwa Indonesia harus ikut dalam konflik perang. Yang ia tekankan adalah pentingnya kesiapan. Dalam krisis global, yang pertama terguncang bukan hanya medan perang, tetapi juga logistik, pangan, energi, dan ekonomi. Negara yang tidak siap akan menjadi rapuh ketika rantai pasok terganggu dan tekanan ekonomi meningkat. Karena itulah penguatan pertahanan, ketahanan pangan, cadangan nasional, serta berbagai program strategis dibangun sebagai fondasi agar Indonesia mampu bertahan menghadapi kemungkinan terburuk.

Di awal masa jabatannya sebagai Presiden, Prabowo Subianto pernah menyampaikan bahwa dalam 5 – 8 bulan ke depan pemerintah akan mengambil langkah-langkah fundamental dan melakukan berbagai terobosan besar untuk memperkokoh ekonomi Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah memahami betul situasi global yang sedang tidak stabil. Karena itu yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan rutin, tetapi langkah strategis yang mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional agar Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah gejolak dunia.

Namun menariknya, mereka yang dulu menertawakan, alih-alih mengakui pentingnya ketahanan nasional. Mereka tetap mencari celah kesalahan dan tetap meremehkan, tetap menyalahkan apapun yang dilakukan pemerintah, karena sebagian dari mereka memang gak pernah fokus membangun Indonesia. Mereka sibuk membantah, apapun kebijakannya tetap salah di mata mereka, karena mereka gak sejatinya berpihak kepada rakyat. Mereka sedang mengobok-obok dan membodohi kalian. Seolah-olah mereka berpihak rakyat Padahal mereka nggak paham sama sekali dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Karena itu, pesan yang ingin ditegaskan oleh Presiden Prabowo Subianto sejak awal sebenarnya sangat jelas. Indonesia harus bersiap sebelum krisis benar-benar datang. Bukan untuk menakuti rakyat, bukan pula untuk mengajak perang, tetapi untuk memastikan bangsa ini memiliki kekuatan bertahan ketika dunia menghadapi guncangan besar. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, kesiapan nasional—baik dari sisi pertahanan, pangan, energi, maupun ekonomi—menjadi kunci agar Indonesia tetap berdiri kuat dan tidak menjadi korban dari krisis yang sedang melanda dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *