Program makan bergizi gratis (MBG) untuk anak-anak Indonesia kini menjadi perhatian dunia internasional. Dukungan yang datang dari negara luar dan UNICEF menunjukkan bahwa upaya Indonesia dalam meningkatkan kualitas gizi anak dipandang sebagai langkah strategis dan progresif. Perhatian dunia ini menegaskan bahwa persoalan gizi bukan hanya isu dalam negeri Indonesia, tetapi bagian dari agenda pembangunan manusia yang menjadi kepentingan bersama. Ketika negara lain dan lembaga internasional ikut memberi dukungan, hal itu menjadi sinyal bahwa kebijakan ini berada di jalur yang tepat dan relevan dengan program dunia Internasional.
Di Papua, program ini memiliki arti yang jauh lebih mendalam. Wilayah dengan tantangan geografis yang berat dan keterbatasan akses layanan kesehatan masih menghadapi angka stunting dan malanutrisi yang memprihatinkan. Anak-anak Papua membutuhkan intervensi nyata dan berkelanjutan agar dapat tumbuh sehat, cerdas, dan kompetitif. Program makan bergizi gratis menjadi salah satu solusi konkret untuk memutus rantai kekurangan gizi yang selama ini berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Dengan asupan nutrisi yang cukup dan terjamin, anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun kognitif.
Dukungan Negara luar dapat dilihat sebagai bentuk kerja sama strategis antarnegara dalam bidang pembangunan manusia. Sementara itu, keterlibatan UNICEF memperkuat legitimasi program ini karena lembaga tersebut memiliki mandat dan pengalaman panjang dalam isu perlindungan serta pemenuhan hak anak di berbagai belahan dunia. Sinergi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak berjalan sendiri. Kerja sama lintas negara dan lembaga internasional justru memperkaya pendekatan, memperkuat sistem pengawasan, serta memastikan standar gizi yang telah ditentukan oleh Badan Gizi Nasional.
Lebih dari sekadar pembagian makanan, program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Gizi yang baik berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas, dan daya saing generasi mendatang. Jika persoalan stunting dan malanutrisi dapat ditekan secara signifikan, maka beban sosial dan ekonomi di masa depan juga akan berkurang. Papua, yang selama ini sering dikaitkan dengan ketertinggalan indikator pembangunan, berpotensi mengalami lompatan besar apabila intervensi gizi dilakukan secara konsisten dan terukur.
Atensi internasional terhadap program makan bergizi gratis seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen nasional. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat perlu memastikan bahwa pelaksanaannya tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Dukungan global adalah dorongan moral sekaligus pengingat bahwa dunia menaruh harapan pada keberhasilan Indonesia dalam membangun generasi yang sehat dan kuat. Pada akhirnya, keberhasilan program ini bukan hanya tentang statistik penurunan stunting, tetapi tentang menghadirkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia, khususnya di Papua.
