UNIFIL: Tiga Prajurit Indonesia Tewas Akibat Tembakan Tank Israel di Lebanon Selatan

LEBANON SELATAN — Misi penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyatakan tiga personel Indonesia tewas akibat tembakan tank militer Israel, berdasarkan hasil investigasi terbaru atas insiden yang terjadi di wilayah Taybeh, Lebanon selatan.

Dalam keterangan resmi, UNIFIL mengungkapkan bahwa analisis lokasi dampak serta serpihan proyektil menunjukkan penggunaan peluru kaliber 120 mm yang merupakan amunisi standar tank Merkava milik Israel. Berdasarkan rekonstruksi balistik, tembakan tersebut berasal dari arah timur menuju area tempat pasukan penjaga perdamaian bertugas.

UNIFIL juga menegaskan bahwa sebelumnya mereka telah membagikan koordinat seluruh posisi dan fasilitas kepada militer Israel pada 6 dan 22 Maret sebagai langkah pencegahan.

“Analisis mendalam terhadap lokasi dan serpihan proyektil mengonfirmasi penggunaan munisi tank berat yang ditembakkan ke arah posisi pasukan penjaga perdamaian,” demikian pernyataan UNIFIL.

Selain itu, dalam insiden terpisah, UNIFIL melaporkan seorang personel penjaga perdamaian sempat ditahan oleh militer Israel setelah konvoi logistik dicegat. Personel tersebut kemudian dibebaskan kurang dari satu jam setelah intervensi komando PBB.

UNIFIL mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

“Penahanan dan penghalangan operasi penjaga perdamaian merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tegas UNIFIL.

Misi tersebut juga menyoroti bahwa tindakan menghalangi pergerakan pasukan PBB bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang menjamin kebebasan bergerak personel penjaga perdamaian di Lebanon selatan.

Insiden yang menewaskan tiga prajurit Indonesia terjadi pada akhir Maret 2026, termasuk serangan terhadap posisi PBB di dekat Adshit al-Qusayr. Pada awalnya, sumber serangan belum dapat dipastikan hingga investigasi teknis dilakukan.

Secara historis, UNIFIL dibentuk untuk menjaga stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon-Israel dan melibatkan ribuan personel dari berbagai negara, termasuk Indonesia sebagai salah satu kontributor utama. Namun, meningkatnya eskalasi militer di kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir memperbesar risiko terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian.

Dari sisi dampak, temuan ini berpotensi memperkuat tekanan internasional terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik untuk mematuhi hukum humaniter internasional, sekaligus meningkatkan tuntutan perlindungan bagi pasukan PBB. Bagi Indonesia, insiden ini juga memicu evaluasi terhadap aspek keamanan dalam penugasan luar negeri.

Ke depan, UNIFIL menyatakan akan terus melakukan koordinasi dengan otoritas terkait serta mendorong penyelidikan lanjutan yang transparan dan akuntabel, guna memastikan pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban dan mencegah terulangnya insiden serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *