Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Mayor Jenderal TNI Iwan Bambang Setiawan menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk melindungi prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon, menyusul rangkaian insiden yang menimbulkan korban jiwa dan luka di bawah naungan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).
Pernyataan tersebut disampaikan Iwan usai menjenguk prajurit Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S yang tengah dirawat di RS Saint George, Beirut, Senin (6/4/2026). “Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan perlindungan kepada seluruh personel,” ujarnya dalam keterangan pers.
Dalam kunjungan tersebut, Iwan didampingi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Lebanon Dicky Komar, DCO Seceast UNIFIL Kolonel Infanteri A. Juni Toa, serta Direktur Pembinaan Operasi PMPP TNI Kolonel Infanteri Untung Prayitno. Ia memberikan dukungan moril kepada tiga prajurit yang dirawat, yakni Lettu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana, Prajurit Kepala Rico Pramudia, dan Prajurit Kepala Deni Rianto.
Iwan menegaskan bahwa kehadiran pimpinan TNI di lokasi merupakan bentuk perhatian negara terhadap prajurit yang bertugas di wilayah konflik. “Kehadiran tersebut menegaskan komitmen negara khususnya pimpinan TNI untuk senantiasa hadir dan memberikan perhatian kepada prajurit yang bertugas di wilayah misi,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pengiriman Pasukan Garuda ke Lebanon merupakan bagian dari peran aktif Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. “Berperan aktif dalam mendukung upaya pemeliharaan perdamaian dunia melalui pengiriman Pasukan Garuda,” ujar Iwan.
Sebelumnya, tiga prajurit TNI dilaporkan gugur dalam dua insiden terpisah pada akhir Maret 2026. Praka Farizal Rhomadhon meninggal akibat ledakan proyektil di dekat pos Indonesia di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret, disusul Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan yang gugur akibat ledakan pada 30 Maret.
Menanggapi peristiwa tersebut, Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan investigasi. “Saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak PBB untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil,” ujarnya.
SBY menegaskan bahwa Indonesia berhak memperoleh penjelasan atas insiden berulang yang menimpa pasukan penjaga perdamaian. “PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka ‘peacekeeper’ dari Indonesia itu terjadi,” katanya.
Secara historis, Indonesia merupakan salah satu kontributor utama pasukan penjaga perdamaian PBB melalui Pasukan Garuda yang telah bertugas di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon. Misi UNIFIL sendiri dibentuk untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel pascakonflik.
Dari sisi dampak, meningkatnya serangan terhadap pasukan perdamaian berpotensi memengaruhi keamanan personel serta peran Indonesia dalam misi internasional. Situasi ini juga menimbulkan tekanan diplomatik bagi PBB untuk memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh personel di lapangan.
Ke depan, pemerintah Indonesia melalui TNI dan Kementerian Luar Negeri akan terus berkoordinasi dengan PBB untuk memastikan keselamatan prajurit serta mendorong percepatan investigasi atas insiden yang terjadi, guna mencegah kejadian serupa terulang.
