Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya diluncurkan dengan tujuan mulia: meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan di Indonesia. Namun kenyataannya, sejak pelaksanaannya banyak laporan kasus keracunan massal yang diduga terkait dengan menu MBG di sejumlah daerah, dengan puluhan ribu orang dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan akibat konsumsi makanan tersebut. Data terbaru menunjukkan jumlah korban mencapai belasan ribu orang, dengan provinsi‑provinsi seperti Jawa Barat dan Yogyakarta termasuk lokasi yang banyak dilaporkan mengalami insiden semacam ini. Kasus keracunan yang terus berulang ini bukan lagi sekadar angka, tetapi merupakan alarm serius bahwa aspek keamanan pangan dalam program ini belum berjalan optimal.
Kondisi ini seyogyanya menjadi momentum bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk benar‑benar mengevaluasi dan memperbaiki tata kelola pelaksanaan MBG secara menyeluruh — mulai dari standar higienis produksi, distribusi yang tepat waktu, hingga sertifikasi keamanan pangan yang ketat. Evaluasi bukan saja soal menemukan kesalahan, tetapi bagaimana memperkuat pengawasan, pendidikan keamanan makanan, dan keterlibatan komunitas agar tujuan program ini — yakni menjaga kesehatan generasi muda — tidak justru berujung ancaman kesehatan. Jika tidak, program besar seperti MBG bisa kehilangan kepercayaan publik dan malah berbalik menjadi risiko bagi anak‑anak yang seharusnya dilindungi.
