JAKARTA, 26 Maret 2026 — Fenomena El Nino ‘Godzilla’ yang diprediksi terjadi pada April hingga Oktober 2026 berpotensi meningkatkan stok ikan secara signifikan di perairan Indonesia melalui proses upwelling, namun di sisi lain juga memicu kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah, sehingga pemerintah didorong segera menyiapkan strategi pengelolaan sumber daya laut dan mitigasi dampak iklim.
Pengamat Maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center, Marcellus Hangkeng Jayawibawa, menyatakan fenomena El Nino kuat ini akan memicu pengadukan massa air laut yang membawa nutrisi dari dasar laut ke permukaan. Kondisi tersebut memperkaya ekosistem dan mendukung pertumbuhan rantai makanan laut.
“Fenomena El Nino ‘Godzilla’ ini, akan membuat lautan seperti teraduk. Sehingga membuat ganggang-ganggang atau alga itu tumbuh dengan baik, dan alga-alga inilah yang akan dimakan oleh ikan,” kata Marcellus dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin (23/3/2026).
Ia menambahkan, peningkatan nutrisi akan berdampak langsung pada lonjakan populasi ikan yang berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan. Selain sektor perikanan, kondisi cuaca panas juga dinilai menguntungkan produksi garam nasional.
“Selain dari potensi kenaikan ikan, panas yang berlebih nantinya juga keuntungan bagi petani-petani garam tentunya. Petani-petani garam akan lebih banyak mengakses garam untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Marcellus, wilayah perairan seperti Laut Arafuru, Laut Natuna, hingga perairan sekitar Sulawesi diperkirakan mengalami peningkatan stok ikan. Namun, ia menyoroti kesiapan pemerintah dalam mengelola potensi tersebut masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal distribusi dan pemanfaatan hasil tangkapan.
Secara historis, fenomena El Nino bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Namun, pemanfaatannya dinilai belum optimal akibat kurangnya edukasi dan fokus kebijakan sebagai negara maritim. Program pembangunan kampung nelayan disebut telah berjalan, tetapi perlu percepatan dan perluasan implementasi agar dampaknya lebih luas.
Di sisi lain, Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi fenomena El Nino 2026 akan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering, terutama di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak serius terhadap ketahanan pangan dan bencana lingkungan.
“Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Selain itu dampak Karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi,” kata Erma.
Ia juga menekankan potensi risiko banjir di wilayah timur Indonesia akibat distribusi hujan yang tidak merata. “Di wilayah Sulawesi, Halmahera, Maluku atau dampaknya terhadap banjir dan longsor,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui Pranata Meteorologi dan Geofisika Madya, Setiyaris, mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih cepat dan lebih kering pada 2026.
“Mumpung bulan ini masih ada hujan, kita maksimalkan memanen hujan dengan mengisi embung, air resapan, dan sebagainya untuk menyongsong kemarau kering di tahun 2026,” ujar Setiyaris.
Fenomena El Nino ‘Godzilla’ ini menciptakan dua sisi dampak bagi Indonesia. Di satu sisi, sektor kelautan dan perikanan berpotensi mengalami lonjakan produksi yang dapat memperkuat ketahanan pangan berbasis protein laut dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Di sisi lain, sektor pertanian darat menghadapi ancaman kekeringan, penurunan produksi pangan, serta risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi ini juga membuka peluang optimalisasi program pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG) melalui peningkatan konsumsi ikan nasional. Namun, tanpa pengelolaan distribusi yang baik, potensi surplus produksi ikan berisiko tidak terserap maksimal oleh pasar.
Pemerintah ke depan direncanakan akan memperkuat langkah mitigasi melalui pengelolaan sumber daya air, optimalisasi produksi garam, peningkatan kapasitas kampung nelayan, serta strategi distribusi hasil perikanan. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga akan ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan selama periode El Nino berlangsung.
