Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan resmi memperluas penggunaan vaksin campak untuk kelompok dewasa berisiko sebagai bagian dari pengendalian kejadian luar biasa (KLB) campak tahun 2026, menyusul peningkatan kasus di sejumlah wilayah dan masih adanya risiko penularan lintas kelompok usia.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan kebijakan ini diambil melalui proses evaluasi ilmiah yang komprehensif dan berbasis data, serta mempertimbangkan situasi kedaruratan kesehatan masyarakat. BPOM juga memastikan vaksin yang digunakan memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat.
“Yang menderita campak bukan hanya anak-anak, tetapi juga terdapat kasus pada kelompok dewasa,” ujar Taruna dalam konferensi pers.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut tidak diambil secara sepihak, melainkan melalui kajian mendalam dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi internasional.
“Kami tidak sekonyong-konyong mengambil keputusan,” kata Taruna.
BPOM menjelaskan bahwa persetujuan penggunaan vaksin campak untuk dewasa berisiko telah resmi berlaku sejak 7 April 2026, termasuk vaksin produksi Bio Farma yang sebelumnya diprioritaskan untuk anak-anak. Selain itu, vaksin kombinasi measles-mumps-rubella (MMR) dari produsen global juga tersedia untuk kelompok dewasa.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga minggu ke-11 tahun 2026 tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi. Meski jumlah kasus menurun signifikan hingga 93 persen dari puncak 2.220 kasus menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret 2026, pemerintah tetap menekankan pentingnya kewaspadaan dan penguatan surveilans.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menyatakan ketersediaan vaksin nasional dalam kondisi mencukupi untuk mendukung kebijakan tersebut.
“Saat ini, stok vaksin campak nasional mencapai sekitar 9,8 juta dosis dengan ketahanan stok sekitar 5,5 bulan sehingga pelaksanaan vaksinasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai prioritas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Sukamto Koesnoe menegaskan bahwa vaksinasi campak pada orang dewasa sebenarnya telah lama direkomendasikan, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.
“Jadi sebetulnya rekomendasi pemberian vaksin campak ini tidak hanya pada saat outbreak ini saja, tetapi kita sudah memberikan rekomendasi pada kelompok-kelompok yang berisiko,” katanya.
Kelompok prioritas dalam program ini meliputi tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, serta individu yang memiliki kontak erat dengan pasien imunokompromi. Kebijakan ini juga sejalan dengan standar global yang direkomendasikan oleh World Health Organization dalam pengendalian penyakit menular.
Dari sisi dampak, perluasan vaksinasi ini diharapkan mampu menekan potensi lonjakan kasus campak pada kelompok dewasa, yang selama ini belum sepenuhnya tercakup dalam program imunisasi nasional. Selain itu, perlindungan terhadap tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan layanan kesehatan.
Ke depan, BPOM bersama Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi akan memperkuat koordinasi pelaksanaan vaksinasi, termasuk distribusi, prioritas sasaran, serta pemantauan efektivitas program. Langkah ini diambil untuk memastikan pengendalian KLB campak berjalan optimal dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
