Pamekasan — Ketika sebuah video pendek beredar di media sosial dan memperlihatkan ikan lele mentah dalam paket program Makan Bergizi Gratis, reaksi publik pun langsung meledak. Banyak warganet merasa khawatir dan mempertanyakan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa. Kekhawatiran itu dapat dipahami, karena program yang menyangkut kesehatan dan gizi anak-anak selalu menjadi perhatian besar masyarakat. Namun di tengah derasnya arus informasi yang viral, penting bagi publik untuk tidak hanya melihat potongan gambar yang beredar, melainkan juga memahami fakta sebenarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat merusak kepercayaan terhadap program yang bertujuan meningkatkan gizi generasi muda.
Faktanya, video yang viral tersebut hanya memperlihatkan sebagian kecil dari isi paket makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, pada Selasa 10 Maret 2026 menjelaskan bahwa menu yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pamekasan Pademawu Buddagan sebenarnya terdiri dari berbagai komponen yang telah dirancang sesuai standar gizi. Paket makanan tersebut tidak hanya berisi ikan lele, tetapi juga dilengkapi dengan tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga. Menu tersebut disusun untuk memenuhi kebutuhan nutrisi para penerima manfaat yang jumlahnya mencapai 3.329 orang, terdiri dari siswa berbagai jenjang pendidikan, anak PAUD dan TK, siswa SLB, balita, ibu hamil dan menyusui, serta tenaga pendidik. Dalam video yang beredar, hanya sebagian isi paket yang terlihat karena pihak sekolah tidak mengizinkan paket makanan dikeluarkan dari kendaraan distribusi, sehingga tayangan tersebut tidak menggambarkan keseluruhan menu yang sebenarnya disiapkan.
Lebih jauh lagi, penggunaan ikan lele dalam menu tersebut juga memiliki alasan gizi yang jelas. Ahli gizi dari SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, Fikri Kuttawakil, menjelaskan bahwa lele dipilih karena merupakan sumber protein tinggi yang mudah diperoleh dari pangan lokal. Metode marinasi yang digunakan bertujuan menjaga kandungan gizi sekaligus membuat ikan dapat bertahan hingga satu hari sebelum dikonsumsi. Artinya, menu tersebut bukanlah makanan yang disiapkan secara sembarangan, melainkan hasil perencanaan gizi yang mempertimbangkan keseimbangan nutrisi bagi para penerima manfaat. Fakta ini memperlihatkan bahwa program MBG pada dasarnya dirancang dengan standar yang jelas untuk mendukung kesehatan masyarakat.
Meski demikian, sebagian pihak tetap mempertanyakan kualitas makanan setelah pihak SMAN 2 Pamekasan menolak 1.022 paket MBG yang dikirim untuk jatah tiga hari. Kepala sekolah menyebut ikan lele dalam paket tersebut masih mentah dan berbau amis, bahkan ada yang disebut masih hidup di dalam kemasan plastik. Kekhawatiran tersebut tentu tidak bisa diabaikan, karena pihak sekolah memiliki tanggung jawab menjaga kesehatan siswa. Namun perbedaan persepsi antara video yang viral dan penjelasan dari penyelenggara program menunjukkan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak selalu mencerminkan keseluruhan situasi di lapangan. Oleh karena itu, klarifikasi dari pihak berwenang serta evaluasi terhadap proses distribusi menjadi langkah penting agar program tetap berjalan dengan baik.
Pada akhirnya, polemik yang muncul dari video viral ini justru menjadi pengingat bahwa program besar seperti Makan Bergizi Gratis membutuhkan pengawasan, komunikasi, dan transparansi yang kuat. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan yang sangat membutuhkan asupan nutrisi seimbang. Karena itu, masyarakat perlu melihat persoalan ini secara utuh: bukan hanya dari potongan video yang viral, tetapi juga dari fakta sebenarnya di baliknya. Dengan pemahaman yang lebih lengkap, publik dapat tetap kritis sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh makanan bergizi yang aman dan layak demi masa depan yang lebih sehat dan kuat.
