Jakarta – Di tengah dentuman meriam di Timur Tengah, Jakarta memilih berjalan dengan kepala dingin. Pemerintah menegaskan stok BBM nasional dalam kondisi aman, dengan ketahanan rata-rata di kisaran 20–23 hari, di atas ambang minimal yang selama ini dijadikan rujukan Dewan Energi Nasional. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan harus melakukan klarifikasi setelah pernyataannya tentang stok “20 hari” sempat memicu kepanikan dan antrean panjang di sejumlah SPBU. Ia menegaskan, Indonesia tidak sedang di ambang krisis energi, melainkan berada dalam koridor kewaspadaan normal di saat arus minyak dunia terguncang oleh perang Iran–Israel dan penutupan jalur strategis Selat Hormuz. Dengan kata lain, stok yang cukup itu bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan ruang gerak bagi pemerintah untuk bermanuver di tengah gejolak harga global.
Di sisi harga, Indonesia memilih “membeku” ketika kawasan justru “menghangat”. Di saat bensin RON 95 di sejumlah negara Asia Tenggara sudah terkerek naik sejak awal Maret akibat lonjakan harga minyak mentah dunia, situs resmi Pertamina masih menampilkan harga Pertamax Series dan Pertamina Dex Series yang tak bergeming sejak awal bulan. Pemerintah bahkan memberi garansi bahwa harga BBM bersubsidi, terutama Pertalite, tidak akan naik dalam waktu dekat demi menjaga daya beli menjelang Ramadan dan Idulfitri. Konsekuensinya jelas: beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN berpotensi membengkak, sesuatu yang oleh Kementerian ESDM diakui sedang dihitung “dengan sangat hati-hati”. Negara memilih menahan gejolak di pompa bensin, sambil menyerap badai di neraca fiskal.
Sementara itu, lanskap regional menunjukkan wajah berbeda: Asia Tenggara bergerak menuju pengetatan konsumsi energi. Sejumlah negara di kawasan bukan hanya menaikkan harga jual, tetapi juga mulai merancang pembatasan penggunaan BBM melalui penyesuaian tarif, pembatasan subsidi, hingga kampanye agresif efisiensi bahan bakar. Kenaikan harga di Thailand dan Sri Lanka menjadi sinyal betapa cepat transmisi konflik Timur Tengah ke harga eceran di SPBU ketika kebijakan harga dibiarkan mengikuti pasar. Di beberapa ibu kota ASEAN, wacana pembatasan penggunaan BBM muncul dalam bentuk pembatasan kuota subsidi untuk kelompok tertentu dan dorongan percepatan migrasi ke transportasi umum maupun kendaraan listrik. Pesannya tegas: konsumsi energi fosil tak lagi bisa dibiarkan tanpa rem di tengah geopolitik yang kian sulit ditebak.
Dalam konteks itu, strategi Indonesia tampak mengambil jalur khas: menenangkan publik lewat jaminan stok aman dan harga subsidi yang tak berubah, sembari menyiapkan skenario mitigasi di belakang layar. Pemerintah bicara soal diversifikasi sumber impor, penguatan cadangan operasional, hingga koordinasi rutin dengan Pertamina dan DEN untuk memantau stok harian. Namun, di akar rumput, bayang-bayang pembatasan tetap menghantui: wacana penataan ulang subsidi tepat sasaran, potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi, hingga dorongan efisiensi konsumsi bisa dengan mudah dibaca publik sebagai “pembatasan terselubung”. Pada akhirnya, perang Iran–Israel bukan sekadar cerita jauh di layar televisi; ia pelan-pelan menjelma menjadi pertarungan senyap di balik nozzle SPBU, di mana pemerintah dituntut menjaga keseimbangan rapuh antara stok yang aman, harga yang terjangkau, dan disiplin penggunaan BBM yang kian tak terelakkan.
