Banjir Demak Paksa 2.839 Warga Mengungsi, BNPB Percepat Penanganan Darurat

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 2.839 warga mengungsi akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sejak awal April 2026. Bencana yang dipicu hujan berintensitas tinggi dan meluapnya Sungai Tuntang itu menyebabkan delapan desa terdampak dan memaksa warga mencari perlindungan di berbagai titik pengungsian.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa ribuan warga kini tersebar di sejumlah lokasi pengungsian, termasuk tempat ibadah dan fasilitas umum. “Warga yang mengungsi mencapai 2.839 jiwa dan tersebar di beberapa titik seperti masjid, balai desa, hingga kantor kecamatan,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Ia menjelaskan, lokasi pengungsian antara lain berada di Masjid Babu Rohim Dukuh Solondoko, Masjid Rodhotul Janah Dukuh Solowere, Kantor Kecamatan Guntur, serta Tanggul Gobang. Selain itu, sejumlah balai desa, mushola, dan madrasah juga difungsikan sebagai tempat penampungan sementara bagi warga terdampak.

Menurut Abdul, banjir melanda delapan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Ia menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh jebolnya beberapa tanggul akibat tekanan debit air yang meningkat. “Banjir dipicu tingginya intensitas hujan dan meluapnya Sungai Tuntang sehingga menyebabkan tanggul jebol di sejumlah titik,” katanya.

Merespons situasi tersebut, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto telah menginstruksikan jajarannya untuk segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah. “Kami telah memerintahkan tim untuk berkoordinasi dan segera turun ke lokasi guna mengidentifikasi kebutuhan penanganan darurat,” ujar Abdul menyampaikan arahan pimpinan.

Selain koordinasi, tim BNPB juga dikerahkan ke lapangan untuk melakukan pendampingan langsung kepada pemerintah daerah dalam percepatan penanganan bencana, termasuk distribusi bantuan dan evakuasi warga.

Secara historis, Kabupaten Demak merupakan salah satu wilayah rawan banjir di pesisir utara Jawa Tengah, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi geografis yang relatif datar serta keberadaan sungai besar seperti Sungai Tuntang meningkatkan risiko luapan air dan kerusakan tanggul.

Dari sisi dampak, banjir tidak hanya menyebabkan pengungsian massal, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya sektor pertanian dan perdagangan lokal. Selain itu, akses pendidikan dan layanan kesehatan juga terdampak akibat genangan air di sejumlah wilayah.

Ke depan, BNPB bersama pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan kondisi cuaca dan debit air, serta mempercepat langkah tanggap darurat, termasuk perbaikan tanggul dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, guna meminimalkan dampak lanjutan dari bencana tersebut.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *