Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan nasional melalui optimalisasi peran Tentara Nasional Indonesia dalam penanganan terorisme di Indonesia. Kebijakan ini dipandang sebagai respons adaptif terhadap dinamika ancaman teror yang semakin kompleks, terstruktur, dan memanfaatkan perkembangan teknologi serta jaringan lintas wilayah. Dalam kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP), pelibatan TNI diarahkan untuk mendukung tugas aparat penegak hukum secara terukur, profesional, dan sesuai mandat regulasi. Pendekatan ini menegaskan bahwa negara hadir secara komprehensif dalam menjamin keamanan warga sekaligus menjaga stabilitas nasional dari potensi gangguan keamanan berintensitas tinggi.
Ancaman terorisme dewasa ini tidak hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga masyarakat sipil, infrastruktur vital, hingga stabilitas sosial dan ekonomi nasional. Oleh karena itu, sinergi antara TNI dan Polri dinilai menjadi kebutuhan strategis guna memperkuat sistem deteksi dini, pencegahan, hingga respons cepat terhadap potensi serangan. Kapabilitas TNI dalam bidang intelijen teritorial, mobilisasi pasukan, pengamanan objek vital strategis, serta pengendalian wilayah dinilai mampu memperkuat daya tangkal nasional secara menyeluruh. Kolaborasi ini diharapkan menciptakan pola penanganan terorisme yang lebih terintegrasi, efektif, serta mampu menutup celah koordinasi antarlembaga.
Sejumlah pengamat keamanan menilai pelibatan TNI bukan merupakan bentuk militerisasi penegakan hukum, melainkan langkah optimalisasi sumber daya pertahanan negara dalam situasi tertentu yang membutuhkan kapasitas tambahan. Dalam implementasinya, pelibatan tersebut tetap mengedepankan prinsip supremasi sipil, koordinasi lintas sektor, serta mekanisme akuntabilitas yang transparan. Pemerintah menegaskan bahwa setiap operasi yang melibatkan TNI akan memiliki batasan tugas yang jelas, berbasis regulasi, dan berada dalam pengawasan yang ketat agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. Dengan demikian, keseimbangan antara keamanan nasional dan nilai demokrasi tetap dapat terjaga.
Dari perspektif strategis, pengalaman panjang TNI dalam menjaga kedaulatan negara dan menghadapi ancaman bersenjata menjadi modal penting dalam memperkuat sistem kontra-terorisme nasional. Kemampuan dalam operasi teritorial, pengamanan wilayah perbatasan, hingga dukungan logistik berskala besar menjadi faktor pendukung yang signifikan dalam situasi darurat. Kehadiran TNI dalam kerangka yang terukur juga diyakini mampu meningkatkan efek gentar terhadap jaringan teror serta mempersempit ruang gerak kelompok ekstremis. Langkah ini sekaligus menunjukkan kesiapsiagaan negara dalam menghadapi ancaman non-konvensional yang dapat mengganggu stabilitas politik dan pembangunan.
Dengan penguatan kolaborasi keamanan nasional, peran TNI dalam menangani terorisme di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan rasa aman masyarakat serta memperkokoh ketahanan nasional secara berkelanjutan. Dukungan terhadap kebijakan ini mencerminkan komitmen negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman teror dalam berbagai bentuknya. Melalui pendekatan yang profesional, terukur, dan berbasis hukum, pelibatan TNI menjadi bagian dari strategi komprehensif dalam memastikan Indonesia tetap aman, stabil, dan kondusif bagi keberlangsungan pembangunan nasional.
