Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan pengadaan rudal supersonik BrahMos dari India sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pertahanan nasional. Kesepakatan tersebut dikonfirmasi oleh Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait.
Pengadaan rudal BrahMos merupakan hasil kerja sama strategis antara India dan Rusia, melalui perusahaan patungan BrahMos Aerospace yang dimiliki kedua negara tersebut.
Rudal Supersonik dengan Kecepatan Mach 2,8
Rudal BrahMos dikenal sebagai salah satu rudal jelajah tercepat di dunia. Sistem persenjataan ini mampu melaju hingga Mach 2,8 atau hampir tiga kali kecepatan suara.
Selain kecepatannya yang tinggi, BrahMos juga memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer untuk versi ekspor. Sementara itu, untuk varian terbaru dilaporkan mampu mencapai lebih dari 400 kilometer.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan rudal ini untuk terbang pada ketinggian rendah, sehingga lebih sulit terdeteksi oleh sistem radar lawan. Hal ini membuat BrahMos menjadi salah satu sistem senjata strategis dalam peperangan modern.
Bagian dari Modernisasi Alutsista Indonesia
Kesepakatan pembelian rudal BrahMos menjadi bagian dari program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia.
Langkah ini juga dinilai memperkuat hubungan strategis Indonesia dan India di bidang pertahanan, terutama dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan.
Menurut Brigjen Rico Ricardo Sirait, kerja sama ini penting bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas.
Nilai Kontrak Diperkirakan Ratusan Juta Dolar
Meski pemerintah tidak mengungkapkan secara resmi nilai kontrak pembelian tersebut, sejumlah laporan sebelumnya menyebutkan bahwa kesepakatan rudal BrahMos untuk Indonesia diperkirakan berkisar antara US$200 juta hingga US$350 juta.
Jika dikonversikan ke rupiah, nilai tersebut setara sekitar Rp3,2 triliun hingga Rp5,6 triliun.
Sebagai perbandingan, harga satu rudal BrahMos saat ini diperkirakan mencapai US$4,75 juta, atau sekitar Rp76 miliar per unit.
Indonesia Berpotensi Dapat Transfer Teknologi
Hal menarik dari kerja sama ini adalah adanya klausul Transfer of Technology (ToT) atau alih teknologi.
Skema ini dinilai penting karena membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan kemampuan produksi dan teknologi rudal secara mandiri di masa depan.
Alih teknologi dalam proyek sistem senjata canggih seperti BrahMos termasuk langkah yang jarang terjadi dalam kerja sama pertahanan internasional.
Indonesia Jadi Negara Kedua Pengguna BrahMos
Sebelumnya, negosiasi antara Indonesia dan India terkait pembelian rudal BrahMos telah berlangsung selama beberapa tahun dan menjadi bagian dari penguatan hubungan bilateral kedua negara.
Jika terealisasi sepenuhnya, Indonesia akan menjadi negara kedua setelah Filipina yang menggunakan rudal BrahMos dalam sistem pertahanannya.
Filipina sendiri telah menandatangani kontrak senilai US$375 juta pada tahun 2022 untuk pengadaan tiga baterai rudal BrahMos.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah unit rudal BrahMos yang akan dimiliki Indonesia.
Beberapa informasi yang beredar mengenai pembelian hingga 57 unit rudal belum dapat dipastikan kebenarannya dan kemungkinan berasal dari interpretasi yang kurang akurat terhadap sumber informasi yang ada.
