Jakarta — Ketika konflik geopolitik memanas di berbagai belahan dunia, kekhawatiran masyarakat sering kali langsung tertuju pada dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Lonjakan harga energi global, fluktuasi nilai tukar, hingga tekanan terhadap perekonomian nasional menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Namun dalam situasi seperti ini, yang paling menentukan bukanlah besarnya ancaman dari luar negeri, melainkan seberapa siap pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak gejolak global.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang memuncak sejak 18 Februari 2026 menjadi salah satu peristiwa geopolitik yang mengguncang pasar energi dunia. Situasi semakin memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia menurut data US Energy Information Administration tahun 2025. Dampaknya langsung terasa pada harga energi global. Dalam periode 27 Februari hingga 9 Maret 2026, harga minyak Brent melonjak hingga mencapai 91,8 dolar AS per barel atau meningkat sekitar 27 persen. Sementara itu, harga gas dunia melonjak lebih tinggi lagi hingga mencapai 55,8 euro per MWh atau naik sekitar 74 persen. Kondisi ini turut memicu tekanan di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Arus modal asing tercatat keluar dari pasar obligasi sebesar 0,41 miliar dolar AS hingga 6 Maret 2026 dan sempat mendorong nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.000 per dolar AS sebelum kembali stabil di sekitar Rp16.974 per dolar AS pada 9 Maret 2026.
Meski demikian, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Berbagai langkah antisipatif terus dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tetap kuat di tengah gejolak global. Salah satu fokus utama pemerintah adalah menjaga ruang fiskal tetap sehat sekaligus memastikan program-program strategis tetap berjalan. Program Makan Bergizi Gratis yang pada 2026 memiliki anggaran sekitar Rp335 triliun atau sekitar 8,72 persen dari total belanja pemerintah menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan melindungi kelompok rentan dari dampak kenaikan harga pangan. Di sisi lain, pemerintah juga tetap menjaga stabilitas energi melalui subsidi dan kompensasi energi yang mencapai sekitar Rp381 triliun atau sekitar 9,92 persen dari total belanja pemerintah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi makro dan perlindungan sosial bagi masyarakat.
Selain menjaga stabilitas fiskal, pemerintah juga memperkuat berbagai strategi untuk meredam dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik. Upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi terus dilakukan agar tekanan harga tidak terlalu membebani masyarakat. Pemerintah juga mulai mendorong strategi diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari kawasan yang rawan konflik geopolitik. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Sebagian pihak mungkin khawatir bahwa tekanan global ini akan melemahkan kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun fakta menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis global sebelumnya, mulai dari krisis keuangan hingga pandemi. Dengan pengelolaan fiskal yang hati-hati, kebijakan perlindungan sosial yang kuat, serta koordinasi antara pemerintah dan otoritas ekonomi, Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, pemerintah tetap memastikan bahwa masyarakat miskin dan rentan mendapat perlindungan melalui berbagai program bantuan sosial yang tepat sasaran.
Pada akhirnya, konflik geopolitik global memang dapat menimbulkan tekanan terhadap perekonomian nasional. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara merespons tekanan tersebut dengan kebijakan yang cepat, terukur, dan berpihak kepada rakyat. Upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, serta memperkuat ketahanan energi menunjukkan komitmen yang jelas bahwa kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama. Dengan langkah antisipatif yang terus diperkuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi dan melewati tantangan global ini dengan lebih tangguh.
