Ekonomi Desa Berputar Lebih Dekat Saat Koperasi Merah Putih Pasok Bahan Program Makan Bergizi Gratis di Pasuruan

Pasuruan — Ketika kebutuhan pangan masyarakat dipenuhi dari lingkungan terdekat, bukan hanya distribusi yang menjadi lebih mudah, tetapi juga kehidupan ekonomi desa ikut bergerak. Selama ini, banyak program pangan menghadapi tantangan panjangnya rantai distribusi yang membuat biaya meningkat dan manfaat ekonomi tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat sekitar. Karena itu, ketika bahan kebutuhan pangan mulai dipasok langsung dari desa sendiri, harapan baru muncul bahwa program sosial tidak hanya memberi manfaat konsumsi, tetapi juga memperkuat roda ekonomi lokal.

Hal tersebut mulai terlihat di Kabupaten Pasuruan melalui kolaborasi antara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) Gejugjati di Kecamatan Lekok. Keberadaan koperasi yang berada tepat di dekat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gejugjati membuat proses distribusi bahan baku dapur MBG menjadi jauh lebih efisien. Bahan kebutuhan dapur tidak lagi harus melalui jalur distribusi panjang karena dapat diperoleh langsung dari koperasi desa setempat. Kepala SPPG Gejugjati, Hamdani Widodo, pada Kamis (12/3/2026) menyampaikan bahwa keberadaan Koperasi Merah Putih di sekitar dapur MBG sangat membantu pemenuhan kebutuhan bahan makanan.

Saat ini, dapur MBG Gejugjati secara rutin membeli minyak goreng dari KDMP Gejugjati sebanyak lima karton atau sekitar 60 pouch berukuran satu liter setiap minggu. Meski baru satu jenis produk yang dipasok secara rutin, kerja sama tersebut sebenarnya telah mencakup beberapa komoditas lain seperti beras dan telur yang telah disepakati melalui nota kesepahaman antara koperasi dan dapur MBG. Ketua KDMP Gejugjati, Muklason, menegaskan bahwa pihak koperasi terus berupaya agar kebutuhan dapur MBG dapat dipenuhi langsung dari koperasi desa sehingga tidak perlu mengambil pasokan dari mitra lain di luar wilayah tersebut.

Langkah ini menunjukkan bagaimana koperasi desa dapat memainkan peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi lokal. Ketika kebutuhan program sosial dipenuhi dari produk yang dihasilkan masyarakat sekitar, maka perputaran ekonomi tidak keluar dari wilayah desa. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Taufiqul Ghony, menilai kolaborasi ini merupakan contoh nyata dari konsep pembangunan ekonomi yang diharapkan pemerintah, yaitu menciptakan siklus ekonomi yang berputar di tingkat lokal. Dengan sistem seperti ini, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di desa memiliki peluang lebih besar untuk menyalurkan produk mereka secara langsung ke dalam rantai pasok kebutuhan masyarakat.

Tentu saja masih ada tantangan yang mungkin muncul, seperti kemampuan koperasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kualitas produk secara konsisten. Namun keberadaan kerja sama resmi antara koperasi dan dapur MBG menjadi fondasi penting untuk membangun sistem distribusi yang lebih kuat. Jika pengelolaan koperasi terus diperkuat, bukan tidak mungkin berbagai kebutuhan pangan lain seperti sayuran, telur, dan beras dapat sepenuhnya dipenuhi dari produk lokal desa.

Pada akhirnya, kolaborasi antara dapur MBG dan Koperasi Merah Putih di Gejugjati tidak hanya sekadar kerja sama pasokan bahan makanan. Lebih dari itu, langkah ini menjadi contoh bagaimana program pemerintah dapat sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa. Ketika kebutuhan pangan dipenuhi dari lingkungan sekitar, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penerima program, tetapi juga oleh petani, pelaku UMKM, dan anggota koperasi yang menjadi bagian dari rantai ekonomi desa. Jika pola ini terus diperluas, desa bukan lagi sekadar tempat produksi, melainkan pusat perputaran ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *