Surabaya — Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada pertengahan 2026. Hal tersebut disampaikan saat meninjau harga bahan pangan di Pasar Wonokromo, Surabaya, Sabtu (4/4/2026), dengan tujuan menjaga stabilitas stok dan produksi pangan nasional.
Rizal mengatakan, langkah antisipasi dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia guna memitigasi dampak El Nino terhadap sektor pertanian. “Jadi kami sudah antisipasi terkait dengan kemarin adanya informasi dari BMKG kemungkinan besar di pertengahan tahun akan terjadi El Nino,” ujarnya.
Ia menambahkan, koordinasi tersebut mencakup perencanaan teknis untuk menjaga produktivitas pertanian tetap stabil. “Nah El Nino ini kami kemarin sudah rapat dengan Kementerian Pertanian, dibimbing Pak Mentan langsung mengantisipasi dan memitigasi terkait ancaman tersebut,” kata Rizal.
Sejumlah langkah konkret telah disiapkan, termasuk peningkatan pompanisasi dan penambahan alat dan mesin pertanian (alsintan). Upaya ini diharapkan mampu menjaga bahkan meningkatkan hasil produksi. “Solusinya di antaranya dari Kementerian Pertanian akan menambahkan pompanisasi kemudian juga memberikan tambahan alsintan, sehingga harapannya tingkat produksi tidak menurun, bahkan berpotensi meningkat,” ujarnya.
Rizal juga menilai bahwa El Nino tidak selalu berdampak negatif, khususnya karena bertepatan dengan masa panen padi di sejumlah wilayah. “Karena di bulan-bulan tersebut adalah puncak-puncaknya panen padi. Nah kalau panen padi itu malah kita senang yang kering, karena hasilnya jadi lebih bagus,” katanya.
Dari sisi pengadaan, Bulog mencatat capaian positif dengan realisasi penyerapan beras nasional yang telah melampaui 35 persen dari target 4 juta ton yang ditetapkan pemerintah. Capaian tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat cadangan pangan nasional menghadapi potensi gangguan produksi.
Selain itu, stok beras yang dikuasai Bulog saat ini mencapai 4,4 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 4,2 juta ton pada tahun lalu. Rizal optimistis jumlah tersebut akan terus meningkat seiring masa panen di berbagai daerah. “Prediksi kami akhir April atau masuk Mei bisa tembus sekitar 5 juta ton,” ujarnya.
Secara historis, fenomena El Nino kerap memicu penurunan curah hujan yang berdampak pada produksi pertanian, khususnya padi. Oleh karena itu, penguatan cadangan beras pemerintah dan intervensi teknis di sektor hulu menjadi langkah krusial dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Kebijakan penguatan stok dan peningkatan produksi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen, sekaligus melindungi pendapatan petani. Dengan stok yang memadai, pemerintah memiliki ruang intervensi lebih besar jika terjadi gejolak pasokan akibat cuaca ekstrem.
Ke depan, Bulog bersama Kementerian Pertanian akan terus memantau perkembangan iklim serta mempercepat penyerapan hasil panen petani. Langkah ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan beras nasional tetap aman hingga akhir tahun serta meminimalkan dampak El Nino terhadap ketahanan pangan Indonesia.
