Satu Suara Bangsa

KTT PIF ke-55 Dibayangi Persoalan Domestik dan Persaingan AS-China di Pasifik

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

1 Sep 2026, 17.313 dibaca

Diperbarui: 1 Sep 2026, 17.47

Dokumentasi INTERNASIONAL
Dok. INTERNASIONAL Dokumentasi INTERNASIONAL

PALAU — Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pacific Islands Forum (PIF) ke-55 di Palau menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakhadiran beberapa pemimpin negara anggota menjadi sorotan di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China di kawasan Pasifik.

KTT yang berlangsung di Koror, Palau, pada 31 Agustus 2026 tersebut mengangkat tema BELAU – Building Economies, Life, Action, Unity. Pertemuan diharapkan membahas berbagai persoalan strategis kawasan, termasuk perubahan iklim, pembangunan ekonomi, keamanan, serta implementasi Strategi Pasifik Biru 2050.

Namun, sejumlah pemimpin negara Pasifik dilaporkan tidak menghadiri pertemuan. Perdana Menteri Kepulauan Solomon Matthew Wale, PM Fiji Sitiveni Rabuka, PM Vanuatu Jotham Napat, Presiden Kiribati Taneti Maamau, serta pemimpin Samoa La’auli Leuatea Schmidt termasuk di antara pemimpin yang tidak hadir.

Ketidakhadiran tersebut memiliki latar belakang berbeda. Kepulauan Solomon, misalnya, tengah menghadapi persoalan politik domestik berupa mosi tidak percaya terhadap pemerintah. Sementara Kiribati disebut memiliki agenda kabinet serta menghadapi kendala penerbangan menuju Palau.

Persaingan China dan Taiwan

Selain persoalan domestik, KTT PIF juga berlangsung di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik di kawasan.

Palau merupakan salah satu dari sedikit negara Pasifik yang masih memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan. Kehadiran Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung dalam rangkaian KTT mendapat penolakan dari China yang tetap berpegang pada prinsip One China.

Presiden Palau Surangel Whipps Jr bahkan mengakui adanya tekanan dari China menjelang pelaksanaan KTT. Menurutnya, tekanan tersebut antara lain berkaitan dengan hubungan ekonomi dan sektor pariwisata.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persaingan pengaruh di Pasifik tidak hanya berlangsung melalui sektor pertahanan dan keamanan, tetapi juga melalui ekonomi, perdagangan, bantuan pembangunan, serta hubungan diplomatik.

Australia Perkuat Pengaruh di Pasifik

Di tengah persaingan tersebut, Australia berupaya memperkuat perannya sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Pasifik.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan pentingnya kepemimpinan Australia dalam membantu negara-negara Pasifik menghadapi berbagai tantangan kawasan. Fokus kerja sama mencakup pembangunan infrastruktur, keamanan, dan kebijakan perubahan iklim.

Australia bersama Selandia Baru selama ini menjadi salah satu mitra utama negara-negara kepulauan Pasifik. Namun, meningkatnya keterlibatan China membuat persaingan pengaruh di kawasan menjadi semakin kompleks.

Tantangan Perubahan Iklim dan Ekonomi

Di luar persoalan geopolitik, negara-negara kepulauan Pasifik menghadapi persoalan yang secara langsung berdampak terhadap masyarakat.

Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut menjadi ancaman serius bagi negara-negara kepulauan kecil. Selain itu, kawasan juga menghadapi kenaikan biaya hidup, persoalan energi, pengangguran, serta dampak bencana alam.

Kondisi tersebut membuat negara-negara Pasifik membutuhkan kerja sama dan dukungan internasional. Namun, ketergantungan terhadap bantuan dari negara-negara besar juga berpotensi membuat kawasan semakin rentan terhadap persaingan kepentingan geopolitik.

Implikasi bagi Indonesia

Dinamika KTT PIF penting untuk diperhatikan Indonesia mengingat kawasan Pasifik memiliki kedekatan geografis dengan Papua.

Stabilitas kawasan Pasifik Selatan dapat berkaitan dengan kepentingan Indonesia dalam bidang keamanan, ekonomi, konektivitas, energi, perubahan iklim, serta hubungan dengan negara-negara kepulauan Pasifik.

Indonesia juga memiliki kepentingan untuk terus memperkuat hubungan dengan negara-negara Pasifik melalui pendekatan kerja sama yang berorientasi pada kepentingan bersama, terutama pembangunan, ketahanan pangan dan energi, perubahan iklim, serta keamanan kawasan.

KTT PIF ke-55 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum membahas persoalan internal negara-negara Pasifik. Pertemuan tersebut juga mencerminkan semakin kuatnya tarik-menarik kepentingan di kawasan, ketika persoalan domestik, perubahan iklim, kepentingan ekonomi, dan persaingan AS-China bertemu dalam satu ruang geopolitik yang semakin strategis.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait